“Manajemen Talenta” atau Sekadar Putar Kursi? — 11 Pejabat Eselon II KBB Mayoritas Wajah Lama, dari Mana Talenta Barunya?

Manajemen Talenta” atau Sekadar Putar Kursi? — 11 Pejabat Eselon II KBB Mayoritas Wajah Lama, dari Mana Talenta Barunya?

NGAMPRAH — Ketua Pokja Wartawan Kabupaten Bandung Barat (KBB) melontarkan pertanyaan tajam kepada Pemerintah Kabupaten Bandung Barat. Setelah Bupati Jeje Ritchie Ismail melantik 11 pejabat Eselon II pada Jumat, 11 September 2026 dengan alasan menggunakan sistem Manajemen Talenta ASN, ternyata fakta di lapangan memperlihatkan sesuatu yang jauh berbeda dari narasi resmi.

Dari 11 nama yang dilantik, sebanyak 7 orang murni hasil mutasi atau pertukaran posisi antar dinas, dan hanya 4 orang yang disebut sebagai hasil promosi. Artinya, lebih dari 63% pejabat yang ditempatkan adalah “wajah lama” yang hanya bertukar kursi antar posisi strategis, tanpa menyertakan wajah-wajah baru yang segar dari kalangan birokrasi bawah .
# INI BUKAN TALENTA, INI SEKADAR BERTUKAR KURSI:

Nama Jabatan Lama Jabatan Baru
Toni Prihantoro Kadis Perindustrian & Perdagangan Kepala Bappelitbangda
Eriska Hendrayana Kepala Bappelitbangda Kadis Perindustrian & Perdagangan
Heru Budi Purnomo Kepala BKAD Kadis Ketahanan Pangan & Pertanian
Moch. Lukmanul Hakim Kadis Ketahanan Pangan & Pertanian Kepala BKAD
Anni Roslianti (mutasi antar OPD) Kadis PUTR
Imam Santoso (mutasi antar OPD) Kadis Pendidikan
Rega Wiguna (mutasi antar OPD) Kepala BPBD

“Dua pasang saling bertukar jabatan secara langsung! Toni-Eriska tukar tempat, Heru-Lukmanul saling bertukar kursi keuangan dan pertanian. Jika ini disebut penemuan talenta, lalu di mana proses penilaian kompetensinya? Ini murni romut lama yang dibungkus nama baru.” — Ketua Pokja Wartawan KBB

Sementara itu, 4 pejabat yang disebut hasil promosi adalah: Rina Marlina (Bapenda), Yunita Nurfadilah (BKPSDM), dr. Lia Nurlia (Dinkes), dan Yoga Rukma Gandara (Disperkim). Namun pertanyaannya tetap: apakah keempat orang ini satu-satunya ASN berprestasi di seluruh KBB? Mengapa tidak ada satupun pejabat eselon III atau IV yang naik dari luar lingkaran lama?

Pertanyaan mendasar yang muncul: jika manajemen talenta bertujuan menemukan orang-orang terbaik dari seluruh jajaran birokrasi, mengapa hasilnya justru hanya lingkaran pejabat yang sudah lama duduk di kursi panas? Apakah seluruh ASN di KBB hanya berjumlah 11 orang yang layak menduduki jabatan strategis? Atau sistem ini sekadar alat formalitas untuk memutar kursi pejabat lama tanpa seleksi terbuka yang transparan?

UU ASN dan Permenpan RB No. 3 Tahun 2020 mewajibkan manajemen talenta berbasis data nine-box, penilaian kompetensi, dan rekomendasi independen. Namun hingga saat ini, dokumen pemetaan talenta, nilai kompetensi, dan daftar kandidat yang dinilai belum dipublikasikan secara terbuka. Masyarakat berhak tahu: apakah pejabat yang saling bertukar posisi ini benar-benar masuk dalam kuadran tertinggi? Atau mereka hanya “dipindah-pindah” berdasarkan pertimbangan lain di luar data kinerja?

Manajemen talenta bukan berarti memutar kursi di antara kelompok yang sama. Jika yang terjadi hanya pertukaran posisi tanpa penyegaran yang nyata, maka narasi “manajemen talenta” hanyalah kedok. Kami menuntut BKN dan KASN melakukan audit langsung: buka seluruh data penilaian, tunjukkan dari mana 11 orang ini diambil, dan jelaskan mengapa talenta baru dari kalangan bawah tidak diberi ruang. Tanpa transparansi, proses ini sama sekali tidak berbeda dengan sistem lama: kekuasaan berpindah di antara lingkaran dalam, sementara rakyat hanya menonton.

👆 Ringkasan Fakta

Indikator Fakta di Lapangan
Total pejabat dilantik 11 orang
Hasil mutasi/bertukar posisi 7 orang (63%)
Hasil promosi 4 orang (37%)
Wajah baru dari luar lingkaran lama Nihil
Dokumen nine-box dipublikasikan Tidak ada
Data nilai kompetensi terbuka Tidak ada
Kepala BKPSDM tidak dilibatkan di Pansel Benar — melanggar Permenpan RB

“Talenta sejati tidak lahir dari saling bertukar kursi. Talenta lahir ketika pintu kesempatan dibuka lebar untuk semua orang yang berprestasi, bukan hanya untuk mereka yang sudah dekat dengan kekuasaan.” — Ketua Pokja Wartawan KBB